JUDUL POSTING ANDA JUDUL POSTING ANDA JUDUL POSTING ANDA JUDUL POSTING ANDA

Home Industri Tempe



DARI 10 KG MENJADI 75 KG
Oleh: Nita Yoshepa, ST (FK Lembeyan)

B u Semi adalah salah satu pemanfaat dari Kelompok SPP Kelurahan Lembeyan Kulon.  tepatnya menjadi anggota Kelompok Arisan Melati Tawangrejo.  Alamat tempat tinggalnya ada di RT 09 RW 03 Dusun TawangRejo Kelurahan Lembeyan Kulon.  Awalnya menjadi anggota Kelompok SPP pada tahun 2010.  Dari uang pinjamannya pada waktu itu oleh bu Semi digunakan untuk usaha pembuatan tempe.  Mulailah Bu Semi  membeli Kedelai untuk bahan Tempe sebanyak 10 Kg, kedelai yang digunakan adalah kedelai  import dengan pertimbangan agar menghasilkan tempe yang berkualitas baik, menurut cerita bu Semi pembelian kedelai importnya ke luar kecamatan yaitu di Gorang gareng Kecamatan Kawedanan dan itupun harus pesan terlebih dulu.  Proses pembuatan tempe dilakukan oleh Bu Semi bersama anaknya.  Tempe yang sudah jadi dijual ke Pasar Lembeyan, selain itu juga ke rumah-rumah disekitarnya.
Semakin hari permintaan tempe bu Semi semakin meningkat.  Hal ini disebabkan kwalitas tempe bu Semi yang bagus yaitu terbuat dari Kedelai dan Ragi, tidak ada bahan campuran lainnya.   Pada waktu kami mengunjungi ke rumahnya sambutan bu Semi terkesan ramah, dilantai rumahnya sudah berjajar-jajar tempe yang sudah selesai di kemas. kami selanjutnya berbincang-bincang menanyakan seputar usaha pembuatan tempenya.  Dari hasil perbincangan kami didapatkan berbagai informasi
perkembangan usahanya seperti : Kebutuhan kedelai untuk perharinya sekarang sudah mencapai 75kg/hari, pembeliannya tidak lagi di Gorang gareng yang harus pesan terlebih dahulu, namun di Kab. Ponorogo. sekali belanja mencapai 1 ton. Kendalanya untuk saat ini dengan sulitnya mencari bahan bakar solar terkadang harga Kedelai tidak stabil, namun demi memenuhi kebutuhan pasar tetap saja dibelinya.  Pemasaran tempe ini juga semakin meluas, tidak hanya di Pasar Kec. Lembeyan namun ke Pasar luar kecamatan yaitu Kecamatan Parang.
 Dengan meningkatnya permintaan pasar ini, bu Semi bersama anaknya kewalahan untuk melaksanakan produksi sendiri, 2 orang tetangganya akhirnya diangkat sebagai pegawai bu Semi. 1 orang bagian penggilingan dan 1 orang bagian pengepakan.  Gaji masing-masing pekerja diberikan secara bulanan, untuk bagian penggilingan Rp. 600 rb/bulan dan bagian pengepakan/ pembungkusan Rp 250.000/bulan.  Jika menjelang Hari raya Idul Fitri yang berkisar 10 hari terakhir bulan puasa sampai dengan 10 hari pasca lebaran perharinya membutuhkan kedelai sebanyak 2 kwintal dan pegawainya mencapai 5 orang.  Pemasaran pada hari Raya juga lebih luas lagi yaitu di Pasar Kec. Lembeyan, Kec. Parang, Pasar Danyang  Kec. Ponorogo dan Pasar Sampung Kec. Ponorogo. 
Kami melihat alat penggilingan tempe berjumlah 1 unit kondisinya sudah usang. Anaknya bu Semi berharap agar mendapatkan bantuan Alat penggiling tempe, dan mengharapkan harga kedelai yang stabil.  Tempat produksi Tempe di ruang Dapur yang masih di renovasi,  diruang itu terdapat mesin penggiling kedelai, bak-bak untuk mencuci kedelai setelah di giling.  Adapun proses pembuatannya dimulai dengan merebus kedelai , merebusnya masih secara tradisional yaitu menggunakan bahan bakar kayu, setelah itu digiling kemudian di cuci ke dalam beberapa bak.  Ternyata air bekas cucian kedelai ini tidak dibuang begitu saja, namun digunakan untuk minuman ternak bu Semi dan juga diberikan pada ternak tetangga disekitarnya.  Demikian hasil kunjungan kami ke tempat pembuatan Tempe Bu Semi yang masih membutuhkan Bimbingan dari berbagai pihak, yang walaupun demikian dengan segala keterbatasannya sudah ikut andil dalam memberikan lapangan pekerjaan bagi tetangga di sekitarnya

1 comment :

Budayakan komentar yang baik dan sopan( tidak berbau SARA, Intimidasi dan Diskriminasi)